Jangan
Malas Membawa Tas
Sabtu pagi, 12 Mei 2007
setelah aku selesai berbenah diri, aku memasukkan dompet, telpon
genggam dalam tas. Entah kenapa aku berubah pikiran untuk
mengurungkan niatku membawa tas. Kukeluarkan lagi kedua benda
tersebut dari dalam tas. Aku keluar kamar dan menyambar kunci mobil.
Kukeluarkan mobil dari
garasi dan berangkat menuju bengkel langganan suamiku untuk menjemput
kedua anakku dan suamiku. Kutaruh dompet dan telpon genggam di
dashboard. Setelah sampai di depan gerbang bengkel, aku menelpon
suami, bilang kalo aku sudah di depan bengkel. Namun ternyata Rafi
dan Daffa masih pengen bermain. Ya sudah, aku masuk saja.
Setelah memarkir mobil
aku masuk ke lobby menemui anak2. Kubawa dompet dan telpon genggamku
pada tanggan kiriku, dan kumasukkan kunci mobil di saku celana dengan
tangan kananku. Akupun masuk dengan disambut anak pertamaku Rafi. Di
waktu yang sama, anakku Daffa berteriak minta ditemenin main bongkar
pasang.
Aku bergegas menuju
tempat mainan dan mulai menyusun bongkar pasang bersama Daffa.
Kulirik suamiku sedang membaca surat kabar di tempat duduk dekat
situ. Anakku yang sudah mengantuk tiba-tiba mulai rewel. Kuputuskan
untuk segera pulang mengajak suami dan anak2ku, meski mobil suamiku
baru selesai pukul 11.00. Sebelum pulang aku bawa anakku ke toilet
untuk buang air kecil. Kutitipkan dompet pada suamiku dan segera aku
menuju toilet. Setelah menemani Daffa, ganti menemani Rafi pipis.
Selanjutnya kami berempat keluar menuju parkiran. Kuserahkan kunci
mobilku pada suamiku untuk mengemudi.
Mobil sudah berjalan
kira-kira 200m, tiba-tiba aku teringat pada telpon genggamku. Kutanya
suamiku, kucari-cari di saku, kubuka-buka laci mobilku siapa tahu
telpon genggamku nyempil di situ. Ternyata hasilnya n..i..h..i..l !!
Kuputuskan
untuk kembali ke bengkel seorang diri. Aku berlari secepat mungkin
menuju tempat tadi. Kutanya satpam yang pertama kali berpapasan
denganku, kutanya resepsionis di lobby, siapa tahu mereka melihat
telpon genggamku terjatuh atau tertinggal. Ku juga mencari di tempat
mainan, bahkan ke toilet tempat terakhir yang aku masuki. Tetapi…………,
telopon genggamku tidak ada.
Untuk
sementara aku dan suamiku putuskan bahwa telpon genggamku telah
hilang ataukah diambil orang. Sepanjang perjalanan pulang aku
berpikir dan menyesal. Andai saja aku tadi tidak malas membawa tas,
andai saja aku membawa tas, mungkin telpon genggamku masih aman di
dalamnya.
Suamiku
diam saja sepanjang perjalanan, namun Rafi mengejekku kalau sekarang
aku tak punya telpon genggam lagi. Akupun diam saja, hanya menjawab
pertanyaan anakku seperlunya. Ditengah perjalanan, tiba-tiba suamiku
bersuara dengan nada sedikit tertawa yang dibuat-buat.
”Bunda……bunda…..kok bisa!” Seketika itu pula tak sadar aku
mau menitikkan air mata. Bingung, sedih, malu, dan menyesal, itulah
perasaanku saat itu. Apalagi teringat kalo telpon genggam itu hadiah
dari suamiku.
Tiba-tiba
suamiku parkir di depan gedung telkomsel. Kamipun masuk berempat.
Setelah tanya ini itu dan menjelaskan semuanya untuk minta diblokir
simcardku yang lama, ternyata aku masih harus ke kantor polisi untuk
minta surat keterangan kehilangan. Malang benar nasibku………………!?
Aku
coba minta surat keterangan kehilangan di pos polisi terdekat
ternyata gak bisa. Ya sudah, aku datangi polsekta Klojen di
lingkungan kecamatanku. Sesampainya di Polsekta aku dipersilahkan
masuk menuju ruangan kusus untuk laporan kehilangan. Kulihat di dalam
ada seorang bapak polisi sedang asik di depan computer. Setelah aku
dekati dan aku lirik komputernya, ternyata dia lagi main game.
Oleh
bapak polisi tadi aku ditanya identitas, dan dia mulai mengetik.
Ditengah-tengah waktu dia mengetik, teman polisi berteriak dari depan
mengingatkan kalau printernya tidak bisa. Akhirnya pakai mesin ketik
manual. Setelah beberapa menit laporan selesai dan aku diminta biaya
administrasi.
Aku
dan suami serta anak-anak kembali lagi ke telkomsel. Setelah antre
dan mengurus semuanya, akhirnya selesai juga urusannya. Aku dapat
simcard baru dengan nomor yang sama dengan biaya administrasi Rp 10
ribu. Kamipun keluar ruangan dan langsung pulang.
Rabo
pagi setelah kejadian itu, tiba-tiba suamiku dapat telpon dari satpam
bengkel langganan suamiku. Satpam bengkel bercerita kalau dia telah
mengadakan penyelidikan sehubungan dengan laporan kehilangan yang
diajukan suamiku. Dia juga mengabarkan kalo ada karyawan yang
menawarkan telpon genggam yang sama persis dengan type telponku yang
hilang.
Pada
hari yang sama saat satpam bengkel menelpon suamiku, siangnya aku
telpon ke bengkel untuk menanyakan perihal berita tersebut. Setelah
klarifikasi sendiri denganku, satpam bengkel makin yakin kalo itu
memang telpon genggamku. Ada sedikit kelegaan dalam diriku saat
berita itu aku dengar. Namun aku belum bisa langsung mendapatkan
telpon genggam kesayanganku. Aku musti menunggu konfirmasi
selanjutnya dari satpam tadi.
Keesokan
harinya aku tunggu-tunggu kabar dari satpam bengkel belum juga
datang. Tidak sabar rasanya, aku telpon saja sendiri ke bengkel. Si
satpam menjelaskan kalo dia tidak bermaksud menunda-nunda, akan
tetapi dia harus menjalankan prosedur yang ada. Dia musti laporan ke
atasannya dulu, dan atasannya pun musti laporan ke pimpinannya. Yang
jelas hari itu aku dikasih tau kalo mau mengambil telponku aku harus
membawa kotak beserta kartu garansi telpon genggamku.
Jumat
pagi aku langsung saja datang ke bengkel membawa persyaratan yang
diajukan dengan harapan bisa bertemu atasan satpam dan membawa pulang
telpon genggamku. Setelah menunggu kurang lebih satu jam, aku bertemu
langsung dengan pimpinan satpam. Kemudian kami mencocokkan no imei
yang ada di kartu garansi dan kotaknya dengan no imei telpon genggam
yang telah diamankan satpam bengkel. Ternyata nomornya cocok, dan
akupun sempat melihat kembali telponku yang hilang kemaren.
Lagi-lagi
aku harus bersabar untuk mendapatkan telponku kembali. Pimpinan
satpam belum berani mengijinkan lantaran dia belum menghadap
pimpinannya. Dia bilang pimpinannya belum datang dari luar kota.
Akhirnya dengan sedikit negosiasi dia berani menjamin kalo hari Senin
aku sudah bisa membawa pulang telpon genggamku. Ya sudah Jumat itu
aku pulang tanpa membawa telonku.
Senin
pagi jam 9.00 aku berangkat sendirian menuju bengkel. Kebetulan pas
yang jaga gerbang adalah satpam yang telpon suamiku tempo hari. Aku
langsung dipersilahkan menunggu sejenak di pos satpam sementara dia
menghubungi pimpinannya. Sepuluh menit kemudian aku dipersilahkan ke
lobby.
Sebentar
sekali aku menunggu di lobby, kemudian pimpinan yang akhirnya kutau
adalah kepala bagia personalia datang bersama kepala bagian umum.
Setelah beramah tamah sebentar dia membuka percakapan dengan
permintaan maaf atas peristiwa yang terjadi di bengkel.
Bla….bla…bla…akhirnya telpon kesayanganku kembali lagi di
tangan. Kuucap terima kasih pada mereka berdua dan kemudian aku
berpamitan.
Sepanjang
perjalanan pulang hatiku diliputi rasa senang sampai-sampai nyetirku
sempat gak konsen. Namun aku berpikir bahwa pelajaran yang dapat aku
petik dari peristiwa kehilangan itu adalah aku harus lebih hati-hati
dan tidak teledor lagi. Satu lagi yang penting, aku tidak boleh malas
lagi membawa tas.