susah

July 5th, 2008 by jusi

- i’ve got a strong urge to fly
but i’ve got nowhere to fly to - pink floyd

memang susah
kalau terlalu banyak
yang ingin diungkapkan

untuk mengurai satu persatu
tak tahu harus mulai dari mana
serasa semua mendesak untuk dibuka

kadang terfikir
untuk mengumpulkan semua jadi satu
lalu menuangkannya dalam sepatah dua kata singkat

seringkas peluit kereta api :
kereta segera berangkat, pengantar silakan turun,
mohon mundur dari jalur rel ……

namun ternyata itu juga tidak sederhana

———————————————————–

ngambil dari blognya suamiku he…he….
ini linknya:

http://some-banalities.blogspot.com/search/label/train-station

HARI YANG MENYEBALKAN

July 3rd, 2008 by jusi

Jumat pagi aku bangun tanpa ada firasat apa2. Bawaannya rada senewen lantaran mo pergi tamanya bersama anak -anak. Semua udah aku siapin sehari sebelumnya termasuk bekal buat di jalan dan koper berisi pakaian, karena berencana nginep semalam di hotel.

Anakku yang kecil dah bangun duluan daripada kakaknya. Aku bikin susu buat si kecil, aku bikin sarapan buat pagi ini. Sementara itu suamiku sibuk masukkan barang ke bagasi mobil. Emang suamiku udah siap berangkat tinggal nunggu si kecil bangun dan mandi.

Ketika giliranku mandi, suamiku masih diluar. Aku dengar mgidupin mesin mobil, aku kira ya….cuman manasin mesin aja. Aku tinggal mandi deh. Ternyata, tanpa sepengetahuanku suamiku keluar sebentar buat isi bensin.

Setelah aku mandi, giliran aku mandikan si kecil dua-duanya. Udah siap pake baju rapi, sambil nunggu ayah datang dari beli bensin tadi mereka mainan di depan TV seperti biasa.

Tak lama kemudian suamiku datang. Kita sarapan sampai selesai. Tiba2 pas mau berangkat suamiku tanya, Kameranya mana????
Sontak aku terkejut dan  kulihat di tempat biasanya,…..tenyata raib…..
hu…hu…hu…..sedih banget!! ternyata pas aku mandi dan suamiku keluar tadi ada maling masuk rumah. Relatif singkat banget si maling masuk rumah. mungkin mulanya iseng masuk, ternyata ada handycam beserta kamera yang udah siap dalam tas….so….tinggal ngkat langsung kabur….

Dasar maling!!! Gak tau malu gak tau sopan dan adat

Semoga suamiku yang sangat bersedih atas kehilangan kamera digital dan handycamnya dapat bersabar dan dapat ganti yang lebih bagus. Dan semoga Allah tetap menyayangi kami sekeluarga. Amien

Ditinggal kawin

December 11th, 2007 by jusi

    Bukannya apa2, tau-tau pacar pembantuku datang pas 2 hari menjelang dia gajian. Di siang bolong, sekitar jam 1.30 tiba2 pembantuku teriak panggil2 aku. Dia pegang2 badan pacarnya sambil kebingungan, "mbak, yok nopo mas kula mbak, kok badhe semaput?" Pacarnya bilang kalo badannya pegel semua, rasanya sesak, dan gak karuan rasanya. dia bilang kalo ada yang "bikin" Aku seh antara percaya dan tidak.
    Pembantuku tampak kebingungan. Aku sarankan supaya pacarnya istirahat di penginapan sebelah rumah. Tetapi….. si pacar pembantuku gak mau dan ngotot pingin pulang aja, dengan alasan ditunggu ortunya. Alhasil pembantuku yang panik dan gak tega minta ijin nganterin pulang pacarnya. Malemnya aku telpon pembantuku katanya dia sudah sampe di rumah, tapi badannya berasa gak karuan kayak pacarnya.
    Dua hari aku tunggu gak ada kabar dari pembantuku. Aku pasrah aja, kalo emang dia balik Alhamdulillah, tapi kalo gak ya sudah. Empat hari berikutnya,pas sabtu pagi tiba2 pembantuku sms katanya mau datang. Sekitar jam 11.30pembantuku datang bersama pacarnya. dia masuk rumah, salaman sama aku. Dia cari masku, lantaran pacarnya dan dia mau ngomong. GAKTAUNYA……dia pamit mau cabut alias keluar. Setelah aku tanya2 ternyata dia mau kawin.
    Ceritanya aku sekarang jadi ibu rumah tangga beneran. Maksudnya pure apa apa aku kerjakan sendiri tanpa ada mbak yang bantuin. Tapi untungnya masku alias ayahe anak2 masih sempet bantuin  sebelum berangkat kerja :)  Ya…. semoga aja bisa jalan dengan lancar meski gak ada mbaknya anak2 alias pembantu.

ALARM ULTAH RAFI, GAK MAU KADO

December 7th, 2007 by jusi

Malam hari, 6 Desember 2007

 

                                     ALARM ULTAH RAFI

 

Tepat jam 6.00
Alarm HPku berbunyi. Aku buka HP ternyata muncul catatan pengingat “Tanggal 6
Desember 2007, Rafi 5th”. Sebenarnya aku tidak lupa dan InsyaAllah
gak bakal lupa kalau tanggal 6 Desember itu hari ulang tahun anak pertamaku
Rafi. Hanya saja aku ingin seisi rumah jadi ingat ultah Rafi kalau aku pasang
alarm di HP.

“Mas lihat nih”, kutunjukkan HP
ke rafi.

Dia membaca, “Tanggal 6 Desember Rafi 5 th”.

Spontan dia tersenyum dan
langsung berkata dengan girang, “Lho kok bisa bunyi sendiri bunda, gimana
caranya?”

"Itu alarm sayang, kan sudah disetel sama bunda biar tanggal 6
Desember jam 6 pagi bunyi, mengingatkan ke kita kalau hari ini ultah mas
Rafi yang ke-5”.

“Tapi kok sudah ndak bunyi, gimana biar bunyi
lagi?” tanya Rafi.

Aku ambil HP darinya dan aku setel untuk bunyi lagi 5 menit
kemudian. “Tunggu ya, sebentar lagi bunyi kok.”

Rafi yang hari
ini musti sekolah aku ajak mandi. Tapi dia masih asik nonton TV sambil pegang
HP. “Ayo mandi mas !” kataku.

“Sebentar bunda, nunggu HPnya bunyi lagi”. Sebentar kemudian alarmnya berbunyi. Rafi
melihat ke HP sambil menari-narikan tangannya seraya mengikuti musiknya. Menit
berganti, alarempun berhenti. Tampaknya dia masih penasaran. “Bunda, berhenti
lagi, tapi masnya mau mbunyikan lagi!”

Aku jawab dia, “Ya sudah, ini bunda
setel jam 6.30 bunyi, tapi mas Rafi mandi dulu ya, biar nanti pas bunyi mas
Rafi sudah ganteng”. Akhirnya dia mau aku mandikan dan kemudian aku pakaikan
seragam sekolahnya.

Jam 6.30
alarem HPku bunyi lagi. Rafi mengambil HP dan dia tersenyum lagi. Aku salamin,
aku peluk dia sambil berkata: “Selamat Ulang Tahun ya mas Rafi. Semoga tambah
pinter, tambah sabar, jadi anak yang sholeh, sayanga sama ayah bunda dan dek
Daffa.”

Rafi tersenyum dan tidak mengomentari bunyi alarm HP yang telah
berhenti. Rafi……Rafi…, kamu benar-benar anak yang pinter dan lucu, bunda sayang
kamu nak.

 

Masih
dihari yang sama, 21.10 WIB

  GAK MAU
KADO ….. SUDAH. Tapi … ternyata …

Jam 9.30 aku
jemput Rafi di sekolahan bersama anakku yang kedua, Daffa . Mulanya Rafi tidak
mau pulang, dia masih ingin main sebentar. Tapi, aku bujuk dia agar mau pulang,
soalnya kalau udah main, dia susah diajak pulang

“Mas, ayo pulang.
Nanti bunda kasih sesuatu. Mas rafi mau ke kosabra (mini market depan rumah)
beli mainan ta? Atau beli Nyam nyam?” tanyaku.

Sambil ogah-ogahan dia keluar dari sekolah dan bertanya, “Mau
apa bunda, kenapa sih?”

Aku jawab dia, “Kan mas Rafi ulang tahun, mau dibelikan kado apa wes?”

Sambil tersipu dia
berkata, “Gak mau apa-apa, gak mau kado,
kan kemaren
sudah dibelikan baju baru.” Padahal niatku mbelikan baju bukan buat kado, tapi
lantaran bajunya yang sudah kekecilan waktunya diganti :) Emang aku sempet
bercanda kalo baju itu hadiah buat ultahnya mas Rafi, soalnya dia nanya melulu
kenapa kok beli baju lagi.

Sekitar
sepuluh menit kemudian aku sampai di rumah, dan kebetulan waktu parkir mobil
eyangnya Rafi datang. Aku masuk rumah duluan sedangkan rafi, daffa dan eyangnya
masih kasak kusuk di depan. Setelah masuk rumah aku langsug ke dapur nyiapkan
makan siang buat anak2 lantaran pembantuku pulang. Setelah selesai nggoreng tempe kesukaan anak2, aku
suapin mereka. Biasa, kalau pulang sekolah aku suapin Rafi lantaran dia
langsung main mobil-mobilan atau computer dan bakalan lama kalau aku suruh
makan sendiri.

Setengah jam
aku menyuapin Rafi dan adiknya. Aku melanjutkan pekerjaan rumah yang belum
beres. Aku biarkan rafi dan adiknya bermain bersama eyangnya di ruang tengah.
Tiba-tiba adzan dzuhur berkumandang. Rafi, Daffa dan eyangnya pergi ke masjid
depan rumah. Aku sampai selesai mencuci dan merapikan dapur, mereka bertiga
belum datang juga dari masjid. Dalam hati aku berkata sendiri, “Ini pasti ke
kosabra, kok sampai lama begini belum datang dari masjid.” Tak lama kemudian
Rafi datang sambil memegang mobil-mobilan, begitu juga dengan adiknya.

Oalah……ternyata lama itu tadi karena mampir kosabra beli mainan. Dan lucunya,
Rafi yang aku tawarin kado mainan tadi gak mau sekarang jadi mau lantaran
dibelikan sama eyangnya. Eyang….eyang, kok gak bosen2 ya beliin cucu
mobil-mobilan. Padahal hari Senin kemarin Rafi sama adiknya kan barusan dibelikan mobil-mobilan. Emang
dunia cucu dan kakek tidak ada yang bisa memahami, mungkin mereka sendiri juga
ndak paham :)    

Hidupku

September 25th, 2007 by jusi

                                        HIDUPKU
(by: masku tersayang)

manis segar panas
reyah derai tawa
harum wangi aromo
empuk lembut tubuh

gelak tawa
isak tangis
rengek rajuk
manja

siang malam sore pagi
saat-saat paling pribadi

sungguh, sungguh indah
memiliki penyejuk mata
memiliki penentram hati
cukuplah untukku

cermin

September 22nd, 2007 by jusi

pada cermin di suatu pagi
ia keluhkan tentang wajah
dan rambutnya yang menurutnya
membosankan

"sebenarnya wajahmu telah berubah. namun
hatimu menolak mengakuinya" ujar si cermin

namun ia mencibir dan bergeming
berharap wajahnya berubah

ia benar-benar terperanjat esok paginya
saat tak dapat mengenali lagi
wajah yang terpampang cermin

"wajahmu telah berubah. karena itu sesuaikan
hatimu dengannya" saran si cermin

"kau tak memahamiku", raungnya

lalu cermin itu ditonjoknya keras-keras
sehingga buku-buku jarinya
berdarah-darah

*****************************
karangannya suamiku tersayang tercinta  :D
http://some-banalities.blogspot.com

Jangan Malas Membawa Tas

June 14th, 2007 by jusi

Jangan
Malas Membawa Tas

Sabtu pagi, 12 Mei 2007
setelah aku selesai berbenah diri, aku memasukkan dompet, telpon
genggam dalam tas. Entah kenapa aku berubah pikiran untuk
mengurungkan niatku membawa tas. Kukeluarkan lagi kedua benda
tersebut dari dalam tas. Aku keluar kamar dan menyambar kunci mobil.

Kukeluarkan mobil dari
garasi dan berangkat menuju bengkel langganan suamiku untuk menjemput
kedua anakku dan suamiku. Kutaruh dompet dan telpon genggam di
dashboard. Setelah sampai di depan gerbang bengkel, aku menelpon
suami, bilang kalo aku sudah di depan bengkel. Namun ternyata Rafi
dan Daffa masih pengen bermain. Ya sudah, aku masuk saja.

Setelah memarkir mobil
aku masuk ke lobby menemui anak2. Kubawa dompet dan telpon genggamku
pada tanggan kiriku, dan kumasukkan kunci mobil di saku celana dengan
tangan kananku. Akupun masuk dengan disambut anak pertamaku Rafi. Di
waktu yang sama, anakku Daffa berteriak minta ditemenin main bongkar
pasang.

Aku bergegas menuju
tempat mainan dan mulai menyusun bongkar pasang bersama Daffa.
Kulirik suamiku sedang membaca surat kabar di tempat duduk dekat
situ. Anakku yang sudah mengantuk tiba-tiba mulai rewel. Kuputuskan
untuk segera pulang mengajak suami dan anak2ku, meski mobil suamiku
baru selesai pukul 11.00. Sebelum pulang aku bawa anakku ke toilet
untuk buang air kecil. Kutitipkan dompet pada suamiku dan segera aku
menuju toilet. Setelah menemani Daffa, ganti menemani Rafi pipis.
Selanjutnya kami berempat keluar menuju parkiran. Kuserahkan kunci
mobilku pada suamiku untuk mengemudi.

Mobil sudah berjalan
kira-kira 200m, tiba-tiba aku teringat pada telpon genggamku. Kutanya
suamiku, kucari-cari di saku, kubuka-buka laci mobilku siapa tahu
telpon genggamku nyempil di situ. Ternyata hasilnya n..i..h..i..l !!

Kuputuskan
untuk kembali ke bengkel seorang diri. Aku berlari secepat mungkin
menuju tempat tadi. Kutanya satpam yang pertama kali berpapasan
denganku, kutanya resepsionis di lobby, siapa tahu mereka melihat
telpon genggamku terjatuh atau tertinggal. Ku juga mencari di tempat
mainan, bahkan ke toilet tempat terakhir yang aku masuki. Tetapi…………,
telopon genggamku tidak ada.

Untuk
sementara aku dan suamiku putuskan bahwa telpon genggamku telah
hilang ataukah diambil orang. Sepanjang perjalanan pulang aku
berpikir dan menyesal. Andai saja aku tadi tidak malas membawa tas,
andai saja aku membawa tas, mungkin telpon genggamku masih aman di
dalamnya.

Suamiku
diam saja sepanjang perjalanan, namun Rafi mengejekku kalau sekarang
aku tak punya telpon genggam lagi. Akupun diam saja, hanya menjawab
pertanyaan anakku seperlunya. Ditengah perjalanan, tiba-tiba suamiku
bersuara dengan nada sedikit tertawa yang dibuat-buat.
”Bunda……bunda…..kok bisa!” Seketika  itu pula tak sadar aku
mau menitikkan air mata. Bingung, sedih, malu, dan menyesal, itulah
perasaanku saat itu. Apalagi teringat kalo telpon genggam itu hadiah
dari suamiku.

Tiba-tiba
suamiku parkir di depan gedung telkomsel. Kamipun masuk berempat.
Setelah tanya ini itu dan menjelaskan semuanya untuk minta diblokir
simcardku yang lama, ternyata aku masih harus ke kantor polisi untuk
minta surat keterangan kehilangan. Malang benar nasibku………………!?

Aku
coba minta surat keterangan kehilangan di pos polisi terdekat
ternyata gak bisa. Ya sudah, aku datangi polsekta Klojen di
lingkungan kecamatanku. Sesampainya di Polsekta aku dipersilahkan
masuk menuju ruangan kusus untuk laporan kehilangan. Kulihat di dalam
ada seorang bapak polisi sedang asik di depan computer. Setelah aku
dekati dan aku lirik komputernya, ternyata dia lagi main game.

Oleh
bapak polisi tadi aku ditanya identitas, dan dia mulai mengetik.
Ditengah-tengah waktu dia mengetik, teman polisi berteriak dari depan
mengingatkan kalau printernya tidak bisa. Akhirnya pakai mesin ketik
manual. Setelah beberapa menit laporan selesai dan aku diminta biaya
administrasi.

Aku
dan suami serta anak-anak kembali lagi ke telkomsel. Setelah antre
dan mengurus semuanya, akhirnya selesai juga urusannya. Aku dapat
simcard baru dengan nomor yang sama dengan biaya administrasi Rp 10
ribu. Kamipun keluar ruangan dan langsung pulang.

Rabo
pagi setelah kejadian itu, tiba-tiba suamiku dapat telpon dari satpam
bengkel langganan suamiku. Satpam bengkel bercerita kalau dia telah
mengadakan penyelidikan sehubungan dengan laporan kehilangan yang
diajukan suamiku. Dia juga mengabarkan kalo ada karyawan yang
menawarkan telpon genggam yang sama persis dengan type telponku yang
hilang.

Pada
hari yang sama saat satpam bengkel menelpon suamiku, siangnya aku
telpon ke bengkel untuk menanyakan perihal berita tersebut. Setelah
klarifikasi sendiri denganku, satpam bengkel makin yakin kalo itu
memang telpon genggamku. Ada sedikit kelegaan dalam diriku saat
berita itu aku dengar. Namun aku belum bisa langsung mendapatkan
telpon genggam kesayanganku. Aku musti menunggu konfirmasi
selanjutnya dari satpam tadi.

Keesokan
harinya aku tunggu-tunggu kabar dari satpam bengkel belum juga
datang. Tidak sabar rasanya, aku telpon saja sendiri ke bengkel. Si
satpam menjelaskan kalo dia tidak bermaksud menunda-nunda, akan
tetapi dia harus menjalankan prosedur yang ada. Dia musti laporan ke
atasannya dulu, dan atasannya pun musti laporan ke pimpinannya. Yang
jelas hari itu aku dikasih tau kalo mau mengambil telponku aku harus
membawa kotak beserta kartu garansi telpon genggamku.

Jumat
pagi aku langsung saja datang ke bengkel membawa persyaratan yang
diajukan dengan harapan bisa bertemu atasan satpam dan membawa pulang
telpon genggamku. Setelah menunggu kurang lebih satu jam, aku bertemu
langsung dengan pimpinan satpam. Kemudian kami mencocokkan no imei
yang ada di kartu garansi dan kotaknya dengan no imei telpon genggam
yang telah diamankan satpam bengkel. Ternyata nomornya cocok, dan
akupun sempat melihat kembali telponku yang hilang kemaren.    

Lagi-lagi
aku harus bersabar untuk mendapatkan telponku kembali. Pimpinan
satpam belum berani mengijinkan lantaran dia belum menghadap
pimpinannya. Dia bilang pimpinannya belum datang dari luar kota.
Akhirnya dengan sedikit negosiasi dia berani menjamin kalo hari Senin
aku sudah bisa membawa pulang telpon genggamku. Ya sudah Jumat itu
aku pulang tanpa membawa telonku.

Senin
pagi jam 9.00 aku berangkat sendirian menuju bengkel. Kebetulan pas
yang jaga gerbang adalah satpam yang telpon suamiku tempo hari. Aku
langsung dipersilahkan menunggu sejenak di pos satpam sementara dia
menghubungi pimpinannya. Sepuluh menit kemudian aku dipersilahkan ke
lobby.

Sebentar
sekali aku menunggu di lobby, kemudian pimpinan yang akhirnya kutau
adalah kepala bagia personalia datang bersama kepala bagian umum.
Setelah beramah tamah sebentar dia membuka percakapan dengan
permintaan maaf atas peristiwa yang terjadi di bengkel.
Bla….bla…bla…akhirnya telpon kesayanganku kembali lagi di
tangan. Kuucap terima kasih pada mereka berdua dan kemudian aku
berpamitan.

Sepanjang
perjalanan pulang hatiku diliputi rasa senang sampai-sampai nyetirku
sempat gak konsen. Namun aku berpikir bahwa pelajaran yang dapat aku
petik dari peristiwa kehilangan itu adalah aku harus lebih hati-hati
dan tidak teledor lagi. Satu lagi yang penting, aku tidak boleh malas
lagi membawa tas. 

websitenya suamiku ……

April 5th, 2007 by jusi

silakan mampir di website nya suamiku : http://ekkie.multiply.com.

isinya macem2 poto mulai dari binatang2 kecil, liputan wisuda ikip malang, sampe kegiatan pasar di deket rumah.

ada juga review musik rock klasik …. mbuh musik opo kuwi  :)
dan beberapa tulisan ringan

wassalam,
yusi